Rabu, 15 Mei 2013

CENDAWAN BEAUVERIA,METARRHIZIUM DAN TRICHODERMA SP


LAPORAN PRAKTIKUM
PERBANYAKAN CENDAWAN
Cendawan Beauveria bassiana,Metarrhizium anisopliae
Trikoderma sp








OLEH
Alkadrin Manui
Npm : 043 111 002




PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGY
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2013


 

PENDAHULUAN

            Rendahnya produktivitas tanaman terutama Perkebunan rakyat antara lain disebabkan oleh petani yang belum memperhatikan budidaya tanaman, agroekosistem dan penerapan Pengendalian Hama Terpadu ( PHT) pada areal kebunnya, sehingga kerugian hasil akibat serangan OPT terutama hama dan penyakit tanaman cukup besar.
            Penggunaan Pestisida sintetis yang kurang bijaksana  dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) masih banyak digunakan oleh petani perkebunan, hal ini mengakibatkan timbulnya beberapa masalah yang kurang menguntungkan, diantaranya timbul resistensi OPT terhadap Pestisida sintetis, residu pestisida, mengakibatkan pencemaran lingkungan  dan lain-lain.  Oleh karena itu sangatlah bijaksana  apabila dalam pengendalian OPT dilakukan dengan menggunakan Musuh alami / Agens hayati.
            Menurut Cook and Baker (1989), pengendalian hayati (biological control) adalah pengurangan jumlah inokulum atau aktivitas produksi penyakit (deseases producing-activity) dari patogen yang disebabkan oleh satu atau beberapa organisme selain manusia. Aktivitas produksi penyakit termasuk didalamnya pertumbuhan, keinfektifan, virulensi, agresifitas dan kualitas lain dari patogen. Di dalamnya termasuk 1) individu atau populasi avirulen atau hipovirulen dari spesies patogen itu sendiri, 2) manipulasi genetik tanaman inang, kultur teknis, atau dengan menggunakan mikroorganisme untuk meningkatkan ketahanan tanaman inang terhadap patogen, dan 3) pemanfaatan antagonis patogen yang diartikan sebagai mikroorganisme yang menginterferensi pertahanan atau aktivitas produksi penyakit dari patogen . Pengendali hayati dapat berupa : kultur teknis (pengelolaan habitat) sehingga membuat lingkungan mendukung untuk pertumbuhan antagonis, penggunaan tanaman inang yang resisten, atau keduanya ; persilangan tanaman untuk meningkatkan ketahanan terhadap patogen atau keadaan tanaman inang yang mendukung (disukai) untuk aktivitas antagonis ; introduksi antagonis, strain non-patogenik, dan agen atau organisme lain yang mempunyai manfaat yang sama.
            Beberapa jenis Agens hayati yang diketahui efektif untuk mengendalikan OPT perkebunan dan mudah pengembangannya adalah :
§  Jamur Beauveria bassiana untuk mengendalikan penggerek buah kopi        ( Hypotenemus hampei ) pada tanaman Kopi, Helopeltis sp pada tanaman Teh dan Kakao.
§  Jamur Spicaria sp untuk mengendalikan Helopeltis sp pada tanaman Teh dan Kakao serta ulat.
§  Jamur Trichoderma sp. untuk mengendalikan Fusarium oxysporum (penyebab penyakit busuk batang pada tanaman Vanili), Phytophtora sp (penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman Lada) dan Rigidoporus lignosus ( penyebab penyakit  Jamur akar putih pada tanaman Karet).
§  Jamur Metarrhizium anisopliae untuk mengendalikan Oryctes rhinoceros  pada tanaman Kelapa dan lain-lain.
§  Jamur Arthrobotrys sp untuk mengendalikan Nematoda pada tanaman kopi.

1.        Jamur Beauveria bassiana
            Beauveria bassiana adalah jamur mikroskopik dengan tubuh berbentuk benang-benang halus (hifa). Jamur ini tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, oleh karena itu dia bersifat parasit terhadap serangga inangnya. Jamur ini umumnya ditemukan pada serangga yang hidup di dalam tanah, tetapi juga mampu menyerang serangga pada tanaman atau pohon (Hindayana 2002).
            Beauveria bassiana merupakan jamur entomopategonik. B. bassiana merupakan salah satu musuh alami yang dianjurkan untuk mengendalikan wereng batang coklat pada tanaman padi (BPTP Sumatera Utara, 2005). Menggunakan jamur B. bassiana sebagai biopestisida, tentu tidak mencemari dan merusak lingkungan seperti yang terjadi jika kita menggunakan pestisida kimia, walaupun keberhasilan dari insektisida biologis dari jamur ini memberikan dampak positif terhadap pengendalian serangga hama tanaman dan keselamatan lingkungan. Namun dalam penerapannya di masyarakat masih minim, sehingga memerlukan upaya sosialisasi yang lebih intensif (Priyatno dan Kardin, 2000).
            Watson and Ware (1975) menyatakan bahwa pengendalian alamiah merupakan salah satu unsur dalam pengelolaan hama dan pengendalian biologis merupakan taktik yang dapat digunakan dalam perpaduan dengan taktik lain. Beberapa musuh alami hama adalah jamur Beuveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Paecilomyces sp., Verticillium sp., dan Spicaria sp.. Jamur ini adalah jamur patogen serangga (entomopatogen) yang sekarang dipergunakan untuk mengendalikan serangga hama (Rehner, and Buckley. 2005; Wagner, and Lewis. 2000). Salah satu musuh alami hama adalah cendawan Beauveria bassiana. Lebih dari 175 jenis serangga hama telah diketahui menjadi inang cendawan B. bassiana dilaporkan efektif untuk mengendalikan hama walang sangit ( Leptocorisa oratorius), dan wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) pada tanaman padi, serta hama kutu (Aphis sp.) pada tanaman sayuran (Distan 2005) dan dapat menginfeksi ulat grayak (Spodoptera litura).

2.        Jamur Metarrhizium anisopliae
            Jamur M. anisopliae telah dikenal sebagai patogen pada berbagai jenis serangga hama dan dapat diproduksi secara komersial sebagai bioinsektisida. Walaupun jamur ini dapat menginfeksi begitu banyak serangga, ternyata intensitas serangan terbesar dan inang yang terbaik untuk berkembang biak adalah larva O. rhinoceros. Semua stadia O. rhinoceros kecuali telur dapat diinfeksi oleh jamur ini. Sifat jamur ini yang dapat menginfeksi hampir semua stadia O. rhinoceros itulah yang menjadi dasar untuk memanfaatkan jamur ini sebagai agens hayati hama tersebut (Sambiran dan Hosang, 2007).

3.        Jamur Trikoderma sp
            Menurut Streets (1980) dalam Tindaon (2008), Trichoderma spp. diklasifikasikan dalam Kingdom Plantae,Devisio Amastigomycota,Class Deutromycetes,Ordo Moniliales, Famili Moniliaceae,Genus Trichoderma, Spesies Trichoderma spp.. Cendawan marga Trichoderma terdapat lima jenis yang mempuyai kemampuan untuk mengendalikan beberapa patogen yaitu Trichorderma harzianum, Trichorderma koningii, Trichorderma viride, Trichoderma hamatum dan Trichoderma polysporum. Jenis yang banyak dikembangkan di Indonesia antara lain Trichorderma harzianum, Trichorderma koningii, Trichoderma viride (Anonim, 2010).
            Trichoderma spp. memiliki konidiofor bercabang cabang teratur, tidak membentuk berkas, konidium jorong, bersel satu, dalam kelompokkelompok kecil terminal, kelompok konidium berwarna hijau biru (Semangun, 1996). Trichoderma spp. juga berbentuk oval, dan memiliki sterigma atau phialid tunggal dan berkelompok (Barnet, 1960 dalam Nurhaedah,2002).
            Koloni Trichoderma spp. pada media agar pada awalnya terlihat berwarna putih selanjutnya miselium akan berubah menjadi kehijau-hijauan lalu terlihat sebagian besar berwarna hijau ada ditengah koloni dikelilingi miselium yang masih berwarna putih dan pada akhirnya seluruh medium akan berwarna hijau (Umrah, 1995 dalam Nurhayati, 2001).
Koloni pada medium OA (20oC) mencapai diameter lebih dari 5 cm dalam waktu 9 hari, semula berwarna hialin, kemudian menjadi putih kehijauan dan selanjutnya hijau redup terutama pada bagian yang menunjukkan banyak terdapat konidia. Konidifor dapat bercabang menyerupai piramida, yaitu pada bagian bawah cabang lateral yang berulang-ulang, sedangkan kearah ujung percabangan menjadi bertambah pendek. Fialid tampak langsing dan panjang terutama apeks dari cabang, dan berukuran (2,8-3,2) μm x (2,5-2,8) μm, dan berdinding halus. Klamidospora umumnya ditemukan dalam miselia dari koloni yang sudah tua, terletak interkalar kadang terminal, umumnya bulat, berwarna hialin, dan berdinding halus (Gandjar,dkk., 1999 dalam Tindaon, 2008).
            Menurut Harman (1998) dalam Gultom (2008), mekanisme utama pengendalian patogen tanaman yang bersifat tular tanah dengan menggunakan cendawan Trichoderma spp.. dapat terjadi melalui :
a.         Mikoparasit (memarasit miselium cendawan lain dengan menembus dinding sel dan masuk kedalam sel untuk mengambil zat makanan dari dalam sel sehingga cendawan akan mati).
b.        Menghasilkan antibiotik seperti alametichin, paracelsin, trichotoxin yang dapat menghancurkan sel cendawan melalui pengrusakan terhadap permeabilitas membran sel, dan enzim chitinase, laminarinase yang dapat menyebabkan lisis dinding sel.
c.         Mempunyai kemampuan berkompetisi memperebutkan tempat hidup dan sumber makanan.
d.        Mempunyai kemampuan melakukan interfensi hifa. Hifa Trichoderma spp.. Akan mengakibatkan perubahan permeabilitas dinding sel.

Tujuan Praktikum
            Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal jenis – jenis cendawan yang bersifat patogensis serta perbanyakannya.








HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Perbanyakan Cendawan Beauveria bassiana
1.      Beauvaria bassiana
            Beauvaria bassiana merupakan jenis cendawan entomopatoge. Artinya, cendawan ini dapat menimbulkan penyakit pada seranga sebagai bioinseptisida. Cara cendawan beauvaria bassiana menginfeksi tubuh seranga di mulai dengan kontak inang, lalu masuk kedalam tubuh inang dan berproduksi di dalam 1 atau lebih jaringan inang.
            Cendawan ini mengeluarkan racun beauvericin yang berkembang dan menyerang  seluruh jaringan tubuh serangga. Serangga yang terserang beauvaria bassiana akan mati dengan tubuh  seperti mumih dengan miselia atau jamur menutupi tubuhnya sehingga menjadih berwarnah putih.
            Serangga yang telah terinfeksi akan mengkontaminasai lingkungan, baik dengan cara mengeluarkan spora menembus kutikula maupun melalui fesenya yang terkontaminasi. Infeksi ini biasanya juga menyerang serangga yang masi sehat. Keberhasilan bioinsektyisida ini di pengaruhi oleh suhu, kelembaban dan sinar matahari.
            Proses produksi jamur entomopatogen dilakukan dua tahap. Pertama produksi jamur di dalam media cair, kedua produksi jamur pada media padat dengan cara menginokulasikan inokulum dari media cair ke media padat. Produksi jamur pada media cair menggunakan medium cair yang mengandung yeast dan sukrosa. Yeast 20 g dicampur sukrosa 20 g, lalu dilarutkan ke dalam 500 ml air. Larutan ini dipanaskan selama 10-15 menit hingga mendidih. Bila yeast mengumpal, larutan itu diblender selama 60 detik, didiamkan 2-3 jam selanjutnya diletakkan di lemari es, kemudian tambahkan 500 ml air. Larutan tersebut diambil sebanyak 75 ml dan dimasukkan ke dalam botol tahan panas (volume 250 ml), kemudian ditutup dengan kapas dan aluminum foil, selanjutnya disterilkan di dalam otoklaf bersuhu 121oC selama 20-30 menit. Setelah itu biakan jamur Metarhizium sp. diinokulasikan sebanyak 10 potong dengan ukuran 0.5 x 0.5 cm per potong sambil digoyang dengan shaker selama tiga hari pada suhu kamar untuk mendapatkan konidia yang optimal dan virulen dan disimpan selama 30 hari. Selanjutnya perbanyakan dilakukan pada media padat yaitu jagung yang telah disiapkan sebanyak 20 kantong. untuk eksplorasi biakan jamur B. Bassiana diperoleh dari tanah dan larva Telebrio molitor. Tanah asal isolat di ambil dari pertanaman. Sterilisasi Alat Semua alat-alat yang digunakan dalam penelitian yang akan digunakan di cuci hingga bersih. Setelah kering setiap alat yang berupa tabung, mulut tabung disumbat terlebih dahulu dengan menggunakan kapas sebelum dibungkus dengan kertas koran. Setelah itu dimasukkan ke dalam oven untuk disterilkan selama satu jam pada suhu 170 oC.
1.      Pembuatan Media PDA
            Kentang sebanyak 200 gram dikupas dan dipotong kecil-kecil lalu dimasukkan ke dalam satu liter aquadest, direbus sampai empuk. Ekstrak kentang tersebut disaring dan ditambahkan 20 gr dextrose, 18 gr agar dan 30 mg klorafenikol sambil diaduk. Setelah itu media dimasukkan ke erlenmeyer dan disterilkan di autoclaf selama 30 menit pada suhu 121oC.
2.      Pembuatan Media Biakan Beras
            Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan media beras adalah 1 liter beras, 2 sendok makan gula pasir, 1 sendok makan cuka. Cara pembuatanya beras 1 liter dicuci sampai bersih, kemudian direndam beras selama 15 menit, dikukus selama 30 menit, setelah matang beras dikering anginkan kira-kira sampai hangat, masukkan 2 sendok makan gula pasir lalu diaduk sampai rata, setelah itu masukkan 1 sendok makan cuka diaduk sampai rata, dikukus selama 15 menit, lalu beras tersebut dikering anginkan kira-kira hangat. Kemudian dimasukkan ke dalam plastik yang tahan panas yang sudah disediakan, setelah dibungkus disterilkan ke dalam autoclaf selama 15 menit dengan tekanan 1,2 atm dan suhu 121 oC (Hasyim, Yasir, dan Azwana. 2005)
B.     Perbanyakan Metarrhizium anisopliae
1.      Metarhizium anisopliae
Cendawan metarhizium anisopliae merupakan jamur yang bersifat entomopatogen dan dapat di jadikan sebagai salah satu bioinsektisida, khususnya bagi hama jenis belalang dan kumbang penggerek.
Metarhizium anisopliae dapat ,menembus  ke jaringan atau kutikula serangga. Menurut thomas matthew b. (2007), mekanisme penetrasi metarhizium anisopliae pada kultikulah serangga dapat di golongkan menjadi 4 tahap sebagai berikut.
1.        Kontak antara  propagul cendawan  dengan tubuh serangga.
2.        Proses penenmpelan dan perkecambahan propagul cendawan pada integumen serangga.
3.        Enetrasi dan infasi. Saat penetrasi menembus integumen, cendawan dapat menembus tabung kecambah (appresorium). Titik penetrasi sanggat di penggarui oleh konfigurasi morfologi integumen. Penembusan di lakukan dengan cara mekanis atau kimiawi  dengan mengeluarkan enzim dan toksin.
4.        Dextruksi di titik penetrasi dan terbentuknya blastospora. Setelah itu, spora akan ber edar ke dalam haemolymph dan membentuk hifa sekunder  untuk menyerang jaringan lainnya,

2.      Bahan dan Alat  yang  digunakan
Bahan
No
Bahan
Jumlah
1
Jagung pecah giling atau beras giling. Asumsi, 1 bungkus bioinseptisida siaap aplikasi berisi  100 gram atau 250 gram. Artinya, jumlah bahan yang di butukan tergantung pada total kantong yang akan di buat.
10 – 20 kg
2
Inokulum atau starter  Beauveria Bassiana Beauveria sp atau Metarhizium  sp
1 cawang petri diameter  9 cm
3
Kantong plastik tahan panas ukuran 1 kg
1 kg
4
Kapas
Secukupnya
5
Alkohol 70 %
Secukupnya

Alat
No
Alat
Jumlah
1
Kompor
 1 buah
2
Panci
1 buah
3
Dandang atau autoklaf
1 buah
4
Baskom besar
1 buah
5
Spatula atau sendok kecil
1 buah
6
Lilin atau lampu bunsen
1 buah


3.      Cara Pembuatan
1.        Cuci bersi dan rendam jagung  atau baras  selamah 24 jam.
2.        Triskan jagung atau beras sampai kering, lalu kering angin kan.
3.        Masukan 100 gram jagung atau beras kedalam kantong plastik tahan panas padat kan dan rekatkan plastik dengan selotip.
4.        Sterilisasikan kantong media tersebut dengan cara dikukus di dalam dandang atau autoklas selama 1,5 jam ( beras atau jagung telaluh matang ).
5.        Setelah selesai, dingginkan mediah ke dalam suhu kamar.
6.        Masukan inokulum atau starter Beauveria sp dan Metarizhium  sp. Sebanyak 1/25 bagian dari biakan murni kedalamkantong media yang telah dinggin dengan mengunakan unjung sendok atau spatula. Lakukan di depan lilin yang menyalah atau di depan lampu bunsen. Di sarankan, kegiatan inokulasi ini di gunakan di tempat yang bersi untuk menghindari terjadinya kontaminasi.
7.        Tutup rapat plastik dan simpan di dalam ruangan yang bersih.
8.        Setelah 7 -14 hari, miselia yang berwarna putih akan tumbuh. Hal ini menandakan Beauveria sp atau Metarizhium sp siap untuk di aplikasikan.
9.        Media jagung atau beras giling  yang sudah jadi tetapi tidak habis di gunakan, sebaiknya di simpan di lemari pendinggi.
4.      Cara Aplikasi
1.        Masukan 1 bungkus ( 100 gram ). Media jagung yang telah ditumbuhi  miselia  Beauveria sp atau Metarizhium sp kedalam 1 liter air. Setelah itu, cuci untuk melepas miselianya.
2.        Saring larutan tersebut untuk memisakan jagung dan miselia cendawan.
3.        Encerkan hasil saringgan yang berisi miseria dan spora  cendawan dalam 14 liter air.
4.        Untuk pencegahan serangan hama, aplikasikan larutan tersebut untuk tanaman sebanyak 1 sampai 2 kali / minggu pada sore hari.
5.        Jika seranggan hama cukup tinggi, aplikasi dapat di lakukan  3 – 4 kali / minggu.

C.    Perbanyakan Trikoderma sp
            Pada masing-masing media (jagung, beras dan dedak) dimasukkan cendawan Trichoderma sp. dengan diameter kurang lebih 5 mm yang telah diperbanyak dalam media PDA. Media diinkubasikan selama 7-14 hari dan tiap hari media tersebut digoyangkan agar pertumbuhan cendawan Trichoderma sp. tumbuh merata.
1.      Cara Perbanyakan Cendawan Trichoderma sp
2.      Bahan dan Alat yang digunakan
Bahan
No
Bahan
Jumlah
1
Serbuk gergaji halus
1 kg
2
Dadak
1 kg
3
Air
Secukupnya (30 % dari media campuran)
4
Inokulum (starter) trichoderma atau gliocladium dalam media PDA (Potato Dextrosde Agar)
 1 cawan petri untuk 20 – 24 kantong @ 500 gram
5
Kantong plastik tahan panas. Gunakan plastik gula tahan panas bening (tidak berwarna). Tidak boleh mengunakan plastik es atau plastik kresek fungsi plastik itu untuk wada saat pengukusan bahan agar tidak terjadi kontaminasi.
1 kg
6
Spritus, berguna sebagai  bahan bakar lampu  bunsen
Secukupnya
7
Alkohol 70 %, berguna sebagai bahan untuk sterilisasi alat.
Secukukpnya
Alat
No
Alat
Jumlah
1
Kompor
1 buah
2
Panci
1 buah
3
Dandang
1 buah
4
Baskom ukuran besar
1 buah
5
Spatula atau sendok kecil
1 buah
6
Liling atau lampu bunsen
1 buah
3.      Cara pembuatan
1.        Campurkan serbuk gergaji dan dedap di dalam wada baskom.
2.        Tambahkan air sampai kedua bahan tersebut tercampur rata dengan kandungan air sekitar 20 – 30 %.
3.        Masukan 500 gram campuran dedak dan serbuk gergaji ke dalam plastik tahan panas. Padatkan dan rekatkan plastik dengan selotip.
4.        Didikan air dalam dandang. Setelah itu, sterilisasi bahan tersebut di dalam dandang atau autoplas selama 1,5 jam. Dinginkan pada suhu kamar .
5.        Siapkan inokulum (starter) trichoderma atau gliochadium sebanyak  1/25 bagian dari total biakan murni di dalam cawan petridish berdiameter 9 cm untuk masing – masing kantong plastik yang berisi mediah.
6.        Masukan inokulum kedalam media mengunakan ujung sendong atau platula didepan lampu bunsen atau lilin yang menyalah. Lakukan hal ini di tempat yang bersih untuk menghindari kontaminasi.
7.        Tutup rapat plastik yang telah diinokulasi  dan letakan ditempat yang bersi dan sejuk.
8.        Setelah 7 -14 hari, cendawan trichoderma atau gliochladium iap di aplikasikan. Indikatornya, campuran bahan menjadih berwarna hitam dan tidak berbau.

4.      Cara aplikasi
1.        Aplikasi pada media persemaian di lakukan dengan mencampur tanah, pupuk kandang,  dan cendawan trichoderma atau gliochladium dengan perbandingan 2 : 1 : 1.
2.        Aplikasi  pada pertanaman di lapangan  di lakukan bersamaan dengan pemupukan dasar atau di campur dengan pupuk kandang. Dosis yang di berikan sebanyak 10 -20 gram/ lubang tanam. Sebagai patokan, untuk lahan seluas 1 hektar di butukan cendawan 140 kg dan pupuk kandang 1000 – 2000 kg.

A.    Ekstra kompos trichoderma
Ekstra kompos trichoderma merupakan campuran pupuk kandang dan cendawan trichoderma yang berfungsi sebagai biofungisida. Ekstra inin berguna untuk mengendalikan penyakit bercak daun embun tepung yang menyerang tanaman bayam hijau dan  bayam merah.
B.     Cara Pembuatan Kompos Trichoderma sp
1.      Bahan dan Alat yang digunakan
Bahan
No
Bahan
Jumlah
1
Pupuk kandang
1 kg
2
Cendawan trichoderma
1 kg
3
Air
5 liter

Alat
No
Alat
Jumlah
1
Ember
1        buah


2.      Cara pembuatan
1.        Campurkan pupuk kandang dan trichoderma dengan perbandingan 1  : 1 di lama ember. Selain itu , tambahkan air sebanyak 5 liter.
2.        Diamkan campuran tersebut selama 3 – 5 hari. Aduk campuran setiap hari.
3.        Setelah 3 – 5 hari, ekstra kompos siap di aplikasikan
3.      Cara pengaplikasian
1.        Untuk mengendalikan penyakit bercak daun, dosis ekstra yang di perlukan sebanyak 200 ml ( 1 cup air mineral). Caranya, masukan larutan ke dalam 10 -14 liter air. Tambahkan 1 sendok teh deterjen sebagai pengemulsi. Setelah itu, semprotkan larutan ke tanaman yang sakit untuk mencega penyebaran penyakit bercak daun. Selain itu,  larutan ini bisah di gunakan untuk tanaman yang masi sehat di sekitarnya.
2.        Sebagai pupuk susulan, encerkan larutan dalam air  dengan perbandingan 1 : 10. Misalnya 1 ember larutan di encerkan dengan 10 ember air. Larutan ini menjadi pupuk kocor dengan dosis 200 ml/ lubang tanam. Biasanya pupuk ini di gunakan saat tanaman  berumur 1 minggu setelah tanam.












PENUTUP
            Berdasarkah hasil praktikum yang dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa cendawan Beauveria bassiana, Trikoderma sp dan Metarrizium aniospliae dapat dimanfaatkan sebagai agen pengendali musuh alami dengan cara melakukan perbanyakan untuk cendawan dilaboratorium tersebut.



















DAFTAR PUSTAKA

Pengaruh Beauveria bassiana terhadap Mortalitas Semut Rangrang Oecophylla smaragdina (F.) (Hymenoptera: Formicidae) J. Entomol. Indon., September 2009, Vol. 6, No. 2, 53-59. Perhimpunan Entomologi Indonesia
BIOEKOLOGI CENDAWAN Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin.A. Haris Talanca Prosiding Seminar Nasional Jagung, 2005 Balai Penelitian Tanaman Serealia
Muhammad Taufik : Efektivitas Agens Antagonis Tricoderma Sp pada Berbagai Media Tumbuh Terhadap Penyakit Layu Tanaman Tomat. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan, 5 Nopember 2008
LETHAL TIME 50 CENDAWAN Beauveria Bassiana DAN METARHIZIUM ANISOPLIAE TERHADAP SARCOPTES SCABIEI. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2008
Surtikanti dan Juniarsih, PEMBUATAN FORMULA PESTISIDA HAYATI Beauveria bassiana Vuill.  DAN KEMASANNYA. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan, 27 Mei 2010  Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros
UJI TOKSISITAS BIOINSEKTISIDA JAMUR Metarhizium sp. BERBAHAN PEMBAWA BENTUK TEPUNG UNTUK MENGENDALIKAN Nilaparvata lugens (Stal.) (HOMOPTERA: DELPHACIDAE) Effendy TA. Prosiding Seminar Nasional Unsri, 20-21 Oktober 2010
Siti Herlinda, Hartono, Chandra Irsan EFIKASI BIOINSEKTISIDA FORMULASI CAIR BERBAHAN AKTIF Beauveria bassiana (BALS.) VUILL. DAN Metarhizium sp. PADA WERENG PUNGGUNG PUTIH (Sogatella furcifera HORV.) . Seminar Nasional dan Kongres PATPI 2008, Palembang 14-16 Oktober 2008
Marodor Malau, Antar Sofyan, dan Yusriadi, 2010. PENGUJIAN JAMUR Beauveria bassiana (Bals.) Vuill ISOLAT ASAL BANJARBARU DALAM MENEKAN PERKEMBANGAN HAMA TANAMAN.. Nomor 2 Volume 17 – Agustus 2010. Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian
Nurmasita Ismail, Andi Tenrirawe. POTENSI AGENS HAYATI Trichoderma spp. SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Utara.
http//www.pemanfaatan_Trichoderma spp.sebagai agen pengendali hayati dalam mengendalikan penyakit tanaman.htm.com


1 komentar:

  1. Banyak banget ya tinjauan pustakanya. Tapi sayang di daftar pustaka gak ada. Freak

    BalasHapus