Senin, 27 Mei 2013

makalah

-->



I.                   PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan tanaman semusim yang bersifat menjalar atau memanjat dengan perantaraan alat pemegang berbentuk pilin atau spiral. Bagian yang dimakan dari sayuran ini adalah buahnya. Biasanya buah mentimun dimakan mentah sebagai lalap dalam hidangan makanan dan juga di sajikan dalam bentuk buah segar (Sugito, 1992).
Nilai gizi mentimun cukup baik karena sayuran buah ini merupakan sumber mineral dan vitamin. Kandungan nutrisi per 100 g mentimun terdiri dari 15 kalori, 0,8 g protein, 0,1 g pati, 3 g karbohidrat, 30 mg  fosfor, 0,5 mg besi, 0,02 thianine, 0,01 riboflavin, 14 mg asam, 0,45 vitamin A, 0,3 vitamin B1, dan 0,2 vitamin B2 (Sumpena, 2001).
`           Kebutuhan akan produksi holtikultura khususnya tanaman mentimun  untuk memenuhin kebutuhan dalam negeri maupun eksporn dewasa ini cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Meningkatnya kebetuan akan sayuran dunia,khususnya indonesia sejalan dngan pertumbuhan jumlah penduduk danmenigkatnya kesdaran masyarakat terhadap pertumbuhan gizi dalam menunjang kehidupan.
Secara umum, budidaya mentimun yang di lakukan oleh petani mengunakan biji, karena tanaman ini tidak dapat di lakukan dengan cara stek. Bungga mentimun dapat berkembang sempurna sampai membentuk buah.
Pada kontek Maluku Untara, tanaman mentimun ini banyak terdapat di daerah – daerah tertentu seperti pulau tidore, beberapa tempat di pulau halmahera dan kepulauan sula yang sudah di kembangkan oleh petani secara individu, dimana kegiatan usaha tani ini sudah dilakukan secara turun temrun.
Tanaman mentimun umumnya dipasarkan ke kota ternate sebagai sentral ekonomi di maluku utara. Prospek pasar tanaman ini sanggat menjanjikan, karena banyak di gemari oleh masyarakat lokal sehingga komoditi ini memiliki harga yang relatif stabil.
Penilitian menyangkut dengan perbandingan media tanam terhadap pertumbuhan tanaman mentimun dipandang penting dan perlu untuk dilaksanakan karena dengan mengetahui potensi karrakter setiap media  tanam maka akan semakin banyak informasi yang didapat untuk mendukung perkembangan budidayanya di Maluku Utara.




1.2.   Tujuan
Tujuan dari penilitian ini untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan tanaman mentimun pada media pasir dan media pupuk kandang.
1.3.   Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penilitian ini yaitu :
1.      Pada media pupuk kandang tanaman mempunya hasil pertumbuhan dan prkembangannya yang sagat baik pada tanaman mentimun, sedangkan pada media pasir pertumbuhan dan perkembangan sangat tidak baik.






















II.                TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi Mentimun
            Menurut klasifikasi tanaman, mentimun dimasukkan ke dalam bangsa Cucurbitales, keluarga Cucurbitaceae, dan marga Cucumis. Marga Cucumis terdiri atas beberapa spesies yang mempunyai arti ekonomi penting, di antaranya Cucumis sativus L. mempunyai 7 genom, Cucumis angurial L. (pare) mempunyai 12 genom dan Cucumis melo L. (melon) mempunyai 12 genom (Sumpena, 2001).
Devisio : Spermatophyta
Sub Kes : Angiospermae
Kelas : Dicotylodeneae
Ordo : Cucurbitaceae
Genus :  Cucumis
Species :  Cucumis sativus L
2.2. Morfologi Mentimun
Menurut Rukmana (1994), perakaran mentimun memiliki akar tunggang dan bulu-bulu akar, tetapi daya tembus akar relatif dangkal, pada kedalaman sekitar 30-60 cm. Oleh sebab itu, tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan air. Tanaman mentimun memiliki batang yang berwarna hijau, berbulu dengan panjang yang bisa mencapai 1,5 m dan  umumnya batang mentimun mengandung air dan lunak. Mentimun mempunyai sulur dahan berbentuk spiral yang keluar di sisi tangkai daun. Sulur mentimun adalah batang yang termodifikasi dan ujungnya peka sentuhan. Bila menyentuh galah sulur akan mulai melingkarinya. Dalam 14 jam sulur itu telah melekat kuat pada galah/ajir (Sunarjono, 2007).
Daun mentimun lebar berlekuk menjari dan dangkal, berwarna hijau muda sampai hijau tua. Daunnya beraroma kurang sedap dan langu, serta berbulu tetapi tidak tajam. Dan berbentuk bulat lebar dengan bagaian ujung yang meruncing berbentuk jantung, kedudukan daun pada batang tanaman berselang seling antara satu daun dengan daun diatasnya (Sumpena, 2001).
Bunga mentimun berwarna kuning dan berbentuk terompet, tanaman ini berumah satu artinya, bunga jantan dan bunga betinah terpisah, tetapi masih dalam satu pohon. Bunga betina mempunyai bakal buah berbentuk lonjong yang membengkak, sedangkan bunga jantan tidak. Letak bakal buah tersebut di bawah mahkota bunga (Sunarjono, 2007).  
Buah mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap, hijau muda, hijau keputihan sampai putih, tergantung kultivar yang diusahakan. Sementara buah mentimun yang sudah tua (untuk produksi benih) berwarna cokelat, cokelat tua bersisik, kuning tua, dan putih bersisik. Panjang dan diameter buah mentimun antara 12-25 cm dengan diameter antara 2-5 cm atau tergantung kultivar yang diusahakan (Sumpena, 2001).
2.3. Jenis-Jenis Mentimun
            Menurut Sugito (1992), jenis mentimun yang banyak dibudidayakan dan diminati masyarakat yakni: 1) jenis mentimun Jepang (Japanese varietas), timun ini berasal dari Jepang dengan ciri buah panjang antara 18-20 cm dengan berat buah 80-120 g, diameter 1,5-2,5 cm, memiliki buah berasa manis, dan kandungan air lebih sedikit. 2) jenis mentimun hibrida yang disilangkan dengan dua jenis induk yang mempunyai sifat-sifat unggul dan keturunannya memiliki sifat yang lebih baik dari induknya. Salah satu mentimun hibrida yakni varietas Hercules 56 yang memiliki ciri buah berwarna hijau, panjang 20 cm, diameter 4 cm, umur panen 35 hari dan memiliki percabang yang banyak dan tahan terhadap penyakit downy mildew. 3) jenis varietas mentimun lokal berasal dari petani setempat dengan ciri tanaman memiliki umur berbunga 20-30 hst dan umur panen 30-35 hst, warna buah muda sangat beragam, yaitu putih, hijau, atau hijau keputihan, sedangkan warna buah tua kuning atau coklat, panjang buah antara 12-19 cm  (Sumpena, 2002).
2.4. Syarat Tumbuh
            Mentimun cocok ditanam di lahan yang jenis tanahnya lempung sampai lempung berpasir yang gembur dan mengandung bahan organik. Mentimun membutuhkan pH tanah di kisaran 5,5-6,8 dengan ketinggian tempat 100-900 m dpl. Mentimun juga membutuhkan sinar matahari terbuka, drainase air lancar dan bukan bekas penanaman mentimun dan familinya seperti melon, semangka, dan waluh. Aspek agronomi penanaman mentimun tidak berbeda dengan komoditas sayuran komersil lainnya, seperti kecocokan tanah dan tinggi tempat, serta iklim yang sesuai meliputi suhu, cahaya, kelembapan dan curah hujan (Wahyudi, 2011).
Untuk pertumbuhan yang optimum diperlukan iklim kering, sinar matahari yang cukup dengan temperatur optimal antara 21 0 C – 30 0 C. sementara untuk suhu perkecambahan biji optimal yang dibutuhkan antara 25 0 C – 35 0 C Kelembapan udara (RH) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun agar hidup dengan baik adalah antara 80-85%. Sementara curah hujan optimal untuk budidaya mentimun adalah 200-400 mm/bln, curah hujan yang terlalu tinggi tidak baik untuk pertumbuhan apalagi pada saat berbunga karena akan mengakibatkan menggugurkan bunga (Sumpena, 2001).
Hasil penelitian Rachmat dan Gerard (1995), mengatakan syarat tumbuh tanaman mentimun pada ketinggian ≥ 1000 m dpl, harus menggunakan mulsa plastik perak hitam karena di ketinggian tersebut suhu tanah ≤ 18o C dan suhu udara ≤ 25o C. sehingga penggunaan mulsa akan meningkatkan suhu tanah dan di sekitar tanaman.

2.5.  Budidaya Mentimun
2.5.1. Benih
            Dalam konteks budidaya mentimun, benih dituntut memiliki mutu tinggi sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum. Benih dijamin kwalitasnya dan memiliki mutu tinggi yakni benih yang bersertifikat. Benih bersertifikat pada dasarnya telah lolos tes mutu benih yang meliputi. 1) mutu genetik, 2) mutu fisiologik, dan 3) mutu fisik (Sadjad, 1977).
Mutu benih mencangkup  pengertian sebagai berikut: 1) Mutu genetik yang merupakan penampilan benih murni dari spesies atau varietas tertentu yang menunjukan genetik dari tanaman induknya. Dengan ciri mutu  benih dan tanaman menyerupai sifat induknya. 2) Mutu fisiologik yang mencakup kemampuan  daya hidup atau viabilitas benih seperti daya kecambah dan kekuatan benih. Dengan ciri mutu fisiologik benih yakni, kemampuan benih dalam memecah kulit benih dalam proses perkecambahan dengan munculnya radikel dan memanjangnya hipokotil serta kotiledon dan plumula ke atas permukaan tanah. 3) Mutu fisik merupakan penampilan benih bila dilihat kasat mata, antara lain ukurannya homogen, bernas, bersih dari campuran benih lain maupun dari gulma dan bebas dari kontaminasi (Sutopo, 2002).
2.5.2. Penyemaian
Benih umumnya akan berkecambah segera pada keadaan lingkungan yang mendukung. Syarat umum yang dibutuhkan untuk  pertumbuhan benih adalah; 1) adanya air yang cukup untuk melembabkan biji, 2) suhu yang sesuia, 3) cukup oksigen, dan 4) adanya cahaya. Selain itu juga, dalam proses perkecambahan benih tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi seperti faktor dalam (internal) dan faktor luar (external). 1) Faktor dalam (internal) meliputi tingkat kematangan benih, ukuran benih, dormansi benih, dan penghambat perkecambahan. Sementara itu, 2) Faktor luar (external) meliputi cahaya, air, temperatur, oksigen, dan medium tumbuh (Sutopo, 2002).
Benih mentimun yang akan ditanam sebaiknya dipersiapkan media tanam/semai terlebih dahulu. Media semai itu berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 7:3. Sebagai tempat media dapat menggunakan polybag atau plastik transparan dengan dilubangi untuk drainase air. Untuk menghindari tanaman terserang hama media  harus diberi Curater  (Sugito, 1992).
2.5.3. Pembuatan Bedengan
            Dalam pembuatan bedeng dengan cara pencangkulan akan mempengaruhi sifat fisik tanah yang berfungsi memperbaiki ruang pori-pori tanah yang terbentuk diantara partikel-partikel  tanah (tekstur dan stuktur). Kerapatan dan rongga-rongga akibat pencangkulan akan memudahkan air dan udara bersirkulasi di dalamnya (drainase dan aerasi). Selain tempat untuk bersirkulasi, pori-pori tanah olahan akan memudahkan pergerakan akar tanaman dalam penyerapan unsur hara lebih mudah dan memungkinkan tanaman tumbuh subur (Hanafiah, 2005).
2.5.4. Pemupukan
Tanah gambut di Indonesia tidak hanya bermasalah dengan kemasaman dan kelarutan Al yang tinggi, tetapi juga miskin hara, terutama hara makro seperti  N, P, K, dan Mg. Oleh karena itu, pengapuran bukannya satu-satunya upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan yang ditempati tanah bersifat asam. Pengapuran yang tidak disertai dengan pemupukan akan sama buruknya dengan pemupukan yang tidak didahului pengapuran (Hakim, 2006).
Pemberian pupuk bertujuan untuk mengembalikan unsur hara yang telah hilang akibat pencucian air tanah, sehingga kebutuhan akan unsur hara tanaman dapat terpenuhi. Dalam pengaplikasiaan pupuk meliputi beberapa cara seperti penaburan, penugalan, pembenaman, penyemprotan dan penyiraman (Suteja, 1997).
Peranan suplai unsur hara untuk tanaman menunjukan manfaat yang sangat besar dalam meningkatkan pertumbuhan, hasil, dan kualitas mentimun. Jenis pupuk yang dapat digunakan pupuk organik berupa pupuk kandang ayam 10 ton/ha, dan pupuk anorganik berupa Urea 225 kg/ha TSP 120 kg/ha, KCL 100 kg/ha dan curater. Pemupukan dilakukan 2 kali yakni pemberian awal dan pemberian susulan. Pemberian pupuk susulan terhadap budidaya mentimun dengan mulsa dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan dengan menggunakan pupuk NPK yang dicairkan. Cara pemberiannya dengan penyiraman dengan dosis 50 g/10 liter air lalu disiramkan disekitar tanaman. Larutan sebanyak itu digunakan untuk 50 tanaman (Sumpena, 2002).
Hasil penelitian Yetti dan Evawani (2008), mengatakan bahwa pemberian pupuk organik kandang ayam dengan dosis KCL 25 g/plot berpengaruh nyata pada parameter pengamatan jumlah  umbi per rumpun, tinggi tanaman, berat basa dan berat kering perplot. Secara keseluruan perlakuan KCL 25 g/plot menunjukan perlakuan terbaik dari semua pengamatan.
2.5.5. Penanaman
            Penanaman benih dapat dilakukan jika benih telah memiliki daun 2-3 daun utama dan benih mentimun yang sudah dikecambahkan ditanam langsung dilubang tanam yang dibuat dengan cara penugalan sedalam 5 cm. Benih ditanam sebanyak 1 tanaman perlubang tugal dan selanjutnya lubang tanam  ditutup tanah setinggi 1 cm jarak lubang tanam 30 cm x 60 cm (Sumpena, 2002).
2.5.6. Pemasangan Ajir
            Mentimun merupakan tanaman yang bersifat memanjat (Indeterminate), sehingga dalam pertumbuhannya mentimun membutuhkan tiang penyangga atau ajir sebagai tempat tegak dan pembentukan buah tanaman tidak terhalang atau terhambat. Dengan kondisi pertumbuhan seperti ini maka persentase terbentuknya buah yang normal (lurus) akan lebih banyak dibandingkan dengan buah-buah yang terbentuk abnormal.  Ajir berfungsi untuk 1) tempat tegak tanaman, 2) mengurangi pembentukan buah abnormal, 3) mengurangi terserang hama, dan 4) memudahkan cara pemanenan (Sumpena, 2001).
2.5.7. Pengendalihan Hama dan Penyakit
            Hama dan penyakit pada mentimun sebenarnya tidak terlalu banyak. Pemberantasan dilakukan setelah terlihat tanda-tanda serangan. Cara pemberatasannya antara lain dengan cara mekanis (eradiksi/pemotongan daun) maupun dengan cara kimia (penyemprotan pestisida). Hama yang sering mengganggu yakni Thrips dan Imago thripis yang merusak tanaman dengan cara menghisap cairan sel. Tanda awal dari kerusakan ini bila daun dihadapkan ke sinar matahari akan kelihatan bintik berwarna putih. Pengendalian serangan hama ini dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida (Khotimah, 2007).
Menurut Sugito (1992), penyakit yang sering menyerang yakni Downy mildew (Pseudomonas cubensis Berk dan Curt) di awali dengan adanya bintik hitam pada permukaan daun yang kemudian berubah menjadi kuning, kemudian meluas menjadi bercak. Pemberantasan penyakit ini dilakukan dengan cara penyemprotan fungisida seperti Benlate dan Dithane. Penyakit layu sering menyerang pada musim hujan ketika tanah tergenang dan terlalu basah. Penyebab penyakit layu diakibatkan oleh Fusarium wilt F, dengan cara pengendalian membuat drainase atau saluran air yang baik dan pembuatan bedeng tanaman yang tinggi ± 50 cm (Sumpena, 2001). 
2.5.8 Panen
            Buah mentimun dapat dipanen pada umur 30-50 hst, ciri-ciri buah yang dapat dipanen, yaitu buah masih berduri, panjang buah antara 10-30 cm atau tergantung jenis yang diusahakan interval panen dilakukan antara 1-2 hari sekali. Panen dilakukan dengan cara memotong tangkainya dengan pisau atau gunting. Tangkai buah yang bekas dipotong sebaiknya dicelupkan kedalam larutan lilin untuk mempertahankan laju penguapan dan kelayuan sehingga kesegaran buah mentimun dapat terjaga relatif lama (Sumpena, 2001).







III.             METODE PENILITIAN

3.1. Tempat Dan Waktu
Penilitian ini di laksanakan di lahan  Fakultas  Pertanian Unkhair ternate , pada bulan mei sampai bulan  juli 2013.
3.2.  Alat  dan  Bahan
Alat yang di gunakan yaitu  cangkul,  Meter,  polyback 3 kg,  karung,  parang , pengaris dan alat tulis menulis. Sedangkan bahan yang di gunakan dalam penilitian ini  yaitu  pasir, pupuk kandang sapi,  dan benih  mentimun Varietas Hercules (Cucumis sativus L.).
3.3.  Metode penilitian
Metode yang di gunakan di dalam penilitian ini yaitu metode eksperimen.
3.4.  Pelaksanaan Penilitian
1.      Pembuatan Pupuk  kandang
Pupuk kandang yang di ambil dari kandang sapi. Di bawah ini cara pembuatan pupuk kandang  sebagai berikut.
1.      Kumpulkan pupuk  kandang  sapi biasanya  di dapatkan dikandang  sapi, lapanggan bola.
2.       Kemudian pupuk kandang sapi dibersikan dari kotoran sampa kemudian  pupuk kandang  dihaluskan dan di isi di dalam ember.
3.      Pupuk kandang yang di isi dalam ember kemudian di berikan air dengan EM4 sebanyak 30 cc ke dalam air, kemudian di tuangkan ke dalam pupuk kandang sapi dan di aduk – aduk  dengan mengunakan kayu sampai merata.
4.      Setelah 7 hari pupuk kandang  dibolak balik agar masa fermentasi cepat dan sempurna.
5.      Selama 2 minggu pupuk kandang siap dipakai/digunakan.
2.      Pembuatan  media pasir
1.      Pasir pantai di ambil di pantai atau di tempat pertambangan pasir.
2.      Pasir yang telah di ambil kemudiaan di aya agar pasir terpisa dengan kerikil atau pasir halus.
3.      Kemudian pasir tersebut siap di pakai.
3.      Pengelolaan tanah  dalam polibac
1.      Pengelolaan dilakukan 1 minggu setelah penanaman . di mana pupuk kandang akan di campur dengan pupuk kandang 1 : 1 dan tanah dan pupuk kandang di campurkan.
2.      Pasir yang di gunakan di siapkan 1 minggu setelah  penanaman.
4.      penanaman
penanaman dilakukan secara langsung  ke dalam polibac yang telah berisi pupuk kandang dan pasir yang telah di sediahkan sebagai media tanam.
5.      Pemiliharaan
1.      Penyuluman bibit dilakukan seawal mungkin sampai tanaman berumur 2 minggu setelah tanam.
2.      Penyiraman tanaman mentimun  ( Cucumis sativa, L)  adalah pada  pagi atau sore hari.
3.      Pembuatan lanjaran pada  pada tanaman mentimun (  Cucumis sativa, L) setelaah tanaman berumur 2 minggu sesudah tanam.
3.5.  Parameter  Pengamatan
Adapun parameter yang di amati dalam penilitian  yaitu sebagai berikut :
1.      Tinggi tanaman, di  hitung satu minggu  setelah  di tanaman selanjutnya tanaman tersebut di lakukan pengukuran tinggi tanaman dalam seminggu sekali sampai tanaman berproduksi.
2.      Jumlah daun, di hitung seminggu setelah tanam.
3.      Jumlah buah, di hitung setelah tanaman berproduksi.

3.5.  Analisa  Data

Data pengamatan dianalisa dengan menggunakan analisa of vareance (Anova), dan diantara perlakuan terdapat perbedaan yang nyata maka dilajnjutkan dengan uji beda nyata terkecil.












DAFTAR PUSTAKA

Hakim, N. 2006. Pengelolaan Kesuburan Tanah Masam dengan Teknologi Pengapuran Terpadu. Andalas University Press. Padang. Hal, 5-15.
Khotimah, N. 2007. Budi Daya Tanaman Pangan, Karya Mandiri Nusantara. Jakarta Barat. Hal, 141-145.
Rachmat, S. dan Geraad Grubben. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. Prosea Indonesia dan Balai Penelitian Hortikultura. Universitas Gadja Mada. Hal, 102-104.
Reijntjes, C, B. Haverkorb, A. Waters-Bayers. 1999. Pertanian Masa Depan. Kanisius. Yogyakarta. Hal, 44-45.
Rukmana, R. 1994. Budidaya Mentimun. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal, 5-8.
Sadjad. S. 1977. Catatan Sejarah Tentang Pengembangan Mutu Benih. Vol. 2. Penataran Latihan Pola Beranam, LP3  IRRI, Bogor. Hal, 1-12.
Sugito, J. 1992. Sayur Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 106-112.
Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun Intensif dengan Mulsa Secara Tumpang Gilir. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 1-46.
Sunarjono, H, H. 2007. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 109-114.
Sutedjo, M, M dan Kartasas Poetra A, G. 1997. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta Buana. Bandung. Hal, 14-15.

Rabu, 15 Mei 2013

PENYAKIT PADA TANAMAN KOPI

Tugas : 
KAPITA SELEKTA TANAMAN PERKEBUNAN
Penyakit yang menyerang pada tanaman kopi
(coffea  spp.) 


OLEH

Alkadrin Manui
Npm : 043 111 002



PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGY
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2013

PENDAHULUAN
Tanaman kopi (Coffea  spp.)  merupakan komoditas ekspor unggulan yang dikembangkan di Indonesia karena mempunyai nilai ekonomis yang relatif tinggi di pasaran dunia. Permintaan kopi Indonesia dari waktu ke waktu terus meningkat karena seperti kopi Robusta mempunyai keunggulan bentuk yang cukup kuat  serta  kopi  Arabika mempunyai karakteristik cita rasa (acidity, aroma, flavour) yang unik dan ekselen (Yusianto, 2005).
Rendahnya produktivitas kopi di antaranya disebabkan adanya serangan OrganismePengganggu Tumbuhan (OPT). Beberapa jenis  OPT yang menyerang tanaman kopi di Sulawesi Selatan adalah hama  penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei  Ferr.), penggerek batang, (Zeuzera sp.,), Penggerek cabang (Xylosandrus spp.), kutu hijau (Cocus  viridis), kutu putih (Ferrisia virgata), penyakit karat daun (Hemileia vastatrix), Cercospora
Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Akibatnya,  jumlah hasil produksi mengalami penurunan hingga 30 persen, juga sangat meresahkan para petani kopi di daerah itu (Nababan, 2010).
Di pertanaman kopi banyak terdapat gangguan- gangguan yang sangat merugikan, salah satunya yaitu hama penggerek buah kopi (Pbko). Kumbang dan larva hama ini menyerang buah kopi yang sudah cukup keras dengan membuat liang gerekan dan hidup di dalam bijinya, sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup parah (Najiyati dan Danarti, 2001). Penerapan sistem agroforestri pada tanaman kopi yang dicirikan oleh banyaknya pohon penaung memberi beberapa manfaat. Sistem ini dapat meningkatkan keragaman hayati, mengkonservasi kesuburan tanah, dan meningkatkan kesehatan tanaman. Sistem agroforestri memiliki kemiripan dengan hutan yaitu ekosistemnya yang stabil sehingga mampu  menghambat perkembangan OPT pada tanaman kopi (Staver et al.,2001).
Di alam Pbko dapat diinfeksi oleh jamur patogen. Jamur-jamur yang dapat menyerang Pbko antara lain Beauveria bassiana, Metarhizium anisopl iae, Botryt is stephanoderis dan  Spicaria javanica (Sudarmo, 1989). Jamur-jamur pada umumnya dapat tumbuh pada keadaan lingkungan yang lembab. Sistem agroforestri kopi dengan pohon penaung diperkiraka dapat meningkatkan aktivitas jamur patogen sebagai musuh alami hama kopi ini. Informasi mengenai keterjadian penyakit jamur pada hama Pbko pada agroforestri masih terbatas.

PEMBAHASAN
Gejala serangan buah kopi yang terserang busuk buah seperti yang terlihat pada Gambar 1.  Pada buah hijau  awalnya  terdapat bercak hitam dan akhirnya  seluruh buah hitam dan pada permukaan buah terlihat spora berwarna putih.
Gambar 1   : Gejala serangan penyakit busuk buah pada buah hijau (A)    dan     pada buah merah (B) Sumber : Main Sese Inda Laila (2011)


Pada pengamatan patogen di laboratorium ditemukan jenis cendawan dengan ciri -ciri yaitu miselium yang tumbuh pada media PDA awalnya berwarna putih selanjutnya terlihat  ada semburat warna pink muda dibagian tengah. Konidiofor ramping,  konidia hialin terdiri  dari mikrokonidia dan makrokonidia. Mikrokonidia berbentuk lonjong dan melengkung terdiri dari 1 sel sedangkan makrokonidia terdiri dari beberapa sel bentuknya sedikit melengkung dengan ujung yang lancip seperti kano. Bentuk morpologi cendawan Fusarium dapat dilihat

A.    KARAT DAUN
Penyebab Penyakit : jamur Hemileia Vastatrix
hemileia vastatrix
Gejala Serangan :
Pada sisi bawah daun terdapat bercak bercak berwarna kuning muda kemudian berubah menajdikuning tua. pada bercak terdapat tepung berwarna jingga cerah yang terdiri atas jamur karat. Bercak yang tua berwarna cokelat tua sampai hitam mengering, Daun yang terserang akan gugur, sehingga pohon menjadi gundul.

Daur Hidup
Jamur membentuk spora dalam jumlah banyak kemudian terjadi penetrasi kedalam jaringan daun. Infeksi terjadi melalui permukaan bawah daun. Perkecambahan spora memerlukan air. Lama waktu perkecambahan tergantun dari uhu. Pada suhu optimum 21-15 derajat Celcius diperlukan waktu 1-3 jam untuk berkecambah.
Faktor yang berpengaruh :
a.       Air berperan penting dalam penyebaran penyakit.
b.      Angin berperan dalam penyebaran spora.
c.       Umur daun menetukan kerentanan terhadap penyakit. Dan yang paling rentan adalah yang membuka penuh.
d.      Pohon atau cabang yang berbuah lebat leibh rentan.
Pengendalian :
a.       Menggunakan varietas kopi yang tahan
b.      Menggunakan mokrobia yang bersfat berlawanan, yaitu bakteri Bacillus thuringienesis dan jamur Verticilium hemileiae
c.       Penggunaan fungisida

B.     AKAR COKELAT
Penyebab Penyakit : Jamur Phellinus noxius
Gejala Penyakit :
Daun tanaman yang sakit menguning, layu dan rontok. Jika akar tanaman sakit dibongkar, pada akar tunggangnya tertutup kerak yang terdiri atas butir-butir tanah yang melekat sangat kuat sehingga tidak dapat terlepas, walalupun sudah dicuci dan disikat. Diantara butir butir tanah tampak adanya jaringan jamur yang berwarna cokelat tua sampai cokelat kehitaman
Kerak terjadi karena miselium yang membukus akar berlendir, sehingga butir-butir tanah terikat kuat. Akar yang sakit menjadi busuk kering dan lunak, mempunya garis-garis cokelat gambir yang terdiri atas miselium jamur.
Daur Hidup :
Jamur menular ke tanaman sehat karena adanya kontak antara akar sehat dengan akar yang sakit. Jamur menular sangat lambat karena umumnya hanya terdapat pada akar tunggang. dengan demikan akar tanaman yang sehat jarang berkontak dengan bagaian-bagian yang sakit infeksi hampir selalu terjadi di tempat-tempat yang mempunyai sisa sisa tunggul pohon hutan. Pada tonggak yang terpendam dalam tanah, jamur mampu bertahan hidup sampai 14 Tahun. Tanaman inang lain : karet, teh, kakao, kelapa, kelapa sawit kina, kapuk, kapas, nangka, dadap, kapur, kapur barus, kluwih, almtoro, dan kayu manis
Faktor yang berpengaruh :
kebun dibekas tanah hutan atau kebun tua yang pemgukaannya tidak dilakukan dengan baik akan mudah terserang jamur
Pengendalian :
a.       Dilakukan  pembongkaran pada tanaman sakit, sisa-sisa akar diambil dan dibakar.
b.      Membuat saluran isolasi di tempat yang terinfeksi.
c.       Melakukan peremajaan, dengan membongkar tanaman yang sudah tua hingga tidak dijmupai tunggul pohon-pohon tua.

C.     JAMUR UPAS
Penyebab Penyakit : Jamur Upasia Salmonicolor
Gejala Serangan :
a.       Infeksi terjadi pada percabagangan atau sisi bawah cabang dan ranting. Mula-mula jamur membentuk miselium tipis, mengkilat seperti sutera atau perak, disebut stadium rumah laba-laba, pada stadium tersebut belum masuk kedalam kulit.
b.      Pada bagian ranting yang tidak terlindung, stadium rumah laba-laba berkembang menjadi stadium bongkol kemudian membentuk banyak sporodakium berwarna merah, disebut stadium anamorf


Daur Hidup :
Jamur upas membentuk basidiospora, berbentuk seperti buah peer, bersifat polifag. Tanaman inang lain : karet, teh kakau, kina jeruk, mangga, nangka, jati, kelengkeng dan melinjo
Faktor yang berpengaruh :
a.       Tanaman pupuk hijau (Tephrosia candida) sering menjadi sumber infeksi
b.      Penyakit banyak terjadi pada kebun yang lembab, pemangkasan kurang, dan pohon pelindung yang terlalu rapat.
c.       Penyakit lebih banyak terdapat di daerah dengan curah hujan tinggi.
Pengendalian :
a.       Sanitasi, yaitu : mengurangi kelembapan kebun, dengan memangkas pohon pelindung atau ranting-ranting kopi yang tidak produktif
b.      membersihkan sumber infeksi yang ada di sekitar, misalnyatanaman pupuk hijau yang sakit.
c.       Penggunaan fungisida, dengan cara melumasikan fungisida pada batang atau cabang besar yang terserang jamur










KESIMPULAN
 Dari penjelasan di atas maka dapat saya tarik kesimpulan sebagai berikut.
Pada tanaman buah kopi banya di serang oleh penyakit yaitu jenis cendawan dengan ciri -ciri yaitu miselium yang tumbuh pada media PDA awalnya berwarna putih selanjutnya terlihat  ada semburat warna pink muda dibagian tengah. Konidiofor ramping,  konidia hialin terdiri  dari mikrokonidia dan makrokonidia. Dan ada lagi penyakit yang menyerang tanaman kopi yaitu karat daun, akar cokelaqt dan jamur upas dan mempunai gejalah masing – masing.

















DAFTAR PUSTAKA
AEKI. 2011. Realisasi Ekspor Berdasarkan Jenis Kopi Tahun 2010.Tersedia di http://www.aekiaice.org/ i m a g e s / s t o r i e s / s t a t 2 0 1 1 /realisasi_ekspor_berdasarkan_jenis_kopi pdf. Diakses tanggal 15 September 2011. Afandi. 2004. Benchmark Description : Benchmark and Window Level Information.  Progress Report CSM-BGBD Project. Universitas Lampung (Unpublished). pp.1-35.
Ferreira, S. A. and Rebecca A. B., 1991. Colletotrichum coffeanum (online), (http://wwww.google.com/colletotricum coffeanum.htm. diakses 1 September 2010). Department of Plant Pathology, CTAHR.. University of Hawaii. Manoa.